Mental Abdurrahman bin Auf Dalam Memulai Bisnis

Dalam kaca mata bagaimana memulai usaha, kalau kita mau bisnis memulai dengan modal punya istri, punya kebun, punya rumah Saya kira lebih menjanjikan daripada nekat dengan tangan kosong jalan ke pasar. Ungkap Ust. Salim Affilah dalam sebuah seminar bisnis di Yogyakarta.

Ternyata Ust. Slim ingin mengajarkan kita sebuah mental yang dimiliki oleh Adburrahman bin Auf saat memulai usahanya yang dengan tangan kosong jalan ke pasar. Yaitu mental bisa membedakan mana modal mana belenggu.

Ada modal ada belenggu, kadang-kadang kita tidak bisa membedakan mana yang disebut modal mana yang disebut belenggu. Pemberian, dalam bentuk sebidang tanah, sebuah rumah, bahkan seorang istri dari seorang bersodara, justru membuat seorang Aburrahman bin Auf merasa “wah kalau Saya dapat yang begituan Saya akan santai menjalani kehidupan. Saya tidak akan memiliki mental pejuang disitu, Saya tidak akan memiliki mental fighter disitu.”

Abdurrahman bin Auf lebih memilih memulai usahanya dari nol, ia berani melangkah, ia berani jatuh, ia berani belajar, ia berani malu. Mental bisnisnya ada disini. Inilah yang ada pada diri Abdurrahman bin Auf.

Dalam pembahasan ini Ust Salim ingin menanamkan mental pejuang, mental fighter, dalam memulai bisnis melalui kisah Abdurrahman bin Auf, yang tanpa modal berjalan ke pasar, dan memulai usahanya dengan menjadi buruh, lalu menjadi makelar, hingga bisa menjadi pembisnis seutuhnya.

Setelah setelah satu bulan setelah memasuki pasar Madinah, Abdurrahman bin Auf datang kepada Rasulullah dengan baju penuh logamnya orang kholem dan pipinya kekuningan dengan zakfaroh. Lalu Rasulullah bertanya “Apa yang terjadi wahai Abdurrahman bin Auf ?” Abdurrahman menjawab “Saya menikah ya Rasulullah”. “Apa maharnya?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, “Emas seberat biji kurma” Selenggarakan walimah, dengan menyemblih seekor kambing.

Kita bayangkan dalam satu bulan Abdurrahman mamu menikah, dengan mahar emas seberat biji kurma, dengan walimahan minimal menyembelih seekor kambing.

Sering Adburrahman bin Auf membagi-bagikan hartanya ke orang-orang Madinah, dan menariknya setiap kali terdengar Abdurrahman bin Auf ingin membagi-bagikan hartanya Ustman bin Affan ikun antri.

Suatu hari Ustman di tanya, “Anda ini kaya, mungkin anda lebih kaya dari Abdurrahman bin Auf , tapi Anda ikut antri.” Apa jawaban Utsman bin Affan, “Harta Abdurrahman adalah harta yang berkah yang didoakan oleh Rasullulah Solallahu alaihi wasallam. Bagaimana mungkin kami melewatkan pembagian harta Abdurrahman bin Auf yang berkah ini untuk mengaliri darah kami.”

Leave a Reply